Jumat, 20 Agustus 2010

karomah

Ditulis oleh K.H.M. Fuad Riyadi   
Friday, 06 March 2009
Seorang ibu menyerahkan putranya kepada Syech Abdul Qodir Al Jilani agar dididik ilmu agama. Beberapa lama kemudian, si ibu itu menjenguk. Sungguh dia kaget: dilihatnya Syech Abdul Kadir sedang makan dengan lauk daging ayam (mewah) sementara putra si ibu hanya makan roti kering (mengenaskan).

Syech malah tersenyum melihat si ibu, memberi isyarat agar mendekat. Syech mengumpulkan tulang-tulang ayam yang baru saja selesai disantapnya. Lalu, beliau berkata, "Dengan nama Allah, hai tulang kembalilah kamu jadi ayam." Seketika itu juga tulang-belulang itu kembali jadi seekor ayam hidup. Si ibu takjub. Syech kemudian berkata, "Kalau anakmu sudah diberi karomah Allah seperti yang baru saja kamu lihat, bolehlah dia makan semewah-mewahnya."

Begitulah salah satu kisah nyata mengenai salah satu karomah Syech Abdul Qodir Al Jilani. Karomah itu artinya kemuliaan yang diberikan Allah kepada para wali (kekasih)-Nya. Adakalanya karomah diperlihatkan seorang wali dalam rangka dakwah kepada umat. Semacam mukjizat bagi para Nabi. Orang Jawa bilang: keramat, kesannya angker. Wah,

Di zaman kita ini, ternyata karomah masih sering penulis temui. Almaghfurlah Abuya Dimyati Banten selalu menjawab pertanyaan penulis sebelum penulis mengatakannya. Para jendral, bahkan presiden sekalipun, tak berani menghadap jika beliau tak berkenan.  Seorang jendral bintang 4 malah terkencing-kencing di celana ketika Abuya membentaknya. Sementara, rakyat cekeremis sekalipun pasti kangen kepada beliau kalau sekali saja pernah melihat beliau. Bandingkan dengan barisan kyai palsu yang suka menghiba-hiba plus nyobyo-nyobyo di hadapan para pejabat dan menolak rakyat jelata yang hendak menghadap! Na'udzubillah.

Almaghfurlah Shohibul fadlilah KH Abdul Muchit Nawawi Jejeran Bantul selalu sudah siap menemui penulis setiap penulis menghadap: menunggu di ruang tamu beserta menyediakan 2 gelas minuman teh nasgitel. Begitu penulis datang, langsung ngendika menjelaskan apa yang jadi uneg-uneg di hati penulis. Padahal, penulis belum matur apa-apa!